PEREMPUAN DALAM PANDANGAN RASULULLAH

(Kilas Balik buku 60 Hadits Shahih, Khusus tentang hak-hak Perempuan Dalam Islam Dilengkapi Penafsirannya)

Sejarah sebelum Islam datang adalah masa gelap bagi perempuan. Perlakuan masayarakat Jahiliyah pada perempuan sangat hina dan merendahkan. Islam datang memberitan tempat setara antara laki-laki dan perempuan, sederajad sebagai mahluk yang memiliki kesempatan sama untuk dekat dengan Tuhannya. Allah memberikan penegasan dalam surat Al Hujurat ayat 13

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS.Al-Hujurat-13)

Allah tidak menyebutkan jenis kelamin, tingkat kedudukan maupun kepemilikan harta benda untuk bisa mencapai kemuliaan di sisi Alllah, tapi kepatuhan untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan yang telah ditetapkan oleh Allah. Senada dengan pesan dalam ayat ini, Rasulullah sebagai pembawa risalah Islam membalikkan pandangan masayarakat jahiliyyah dengan memposisikan perempuan dalam tempat yang setara dalam segala hal; sebagai umat, sebagai anggota masuyarakat dan sebagai anggota keluarga.

Ditemukan banyak hadist Rasulullah dalam kitab shahih hadits yang berisi bagaimana perlakukan, pola komunikasi dan perhatian Rasulullah pada perempuan. Sayangnya hadist-hadits tentang perempuan yang banyak beredar dan disampaikan kepada khalayak adalah hadist-hadits yang mengandung unsur misogini, kekerasan dan ketidakberpihakan pada perempuan. Meski beberapa diantara hadist tersebut statusnya dhoif, tapi tetap dipakai sebagai landasan hukum dan disebarkan secara luas. Hadits-hadist yang banyak dikutip oleh ulama atau orang yang berkepentingan melegitimasi ketimpangan peran dan posisi perempuan sangat kuat mengendap dalam kehidupan masyarakat muslim. Sehingga kesan yang nampak adalah hampir tak ada hadist yang membela kepentingan perempuan seperti; hadist tentang perempuan memiliki akal separuh, perempuan banyak menghuni neraka, perempuan dilaknat 1000 malaikat jika tidak mau melayani suami dan masih banyak lagi.

Setelah membaca buku “60 Hadits Shahih khusus tentang Hak-hak Perempuan dalam Islam dilengkapi dengan Penafsirannya” karya Kyai Faqihuddin Abdul Qadir, saya seperti terkesiap, pikiran dan imaji saya melompat ke masa Rasulullah, membayangkan betapa indahnya Rasulullah memperlakukan perempuan, mendengarkan keluh kesah,  dan protes mereka bahkan berdiskusi tentang berbagai hal. Sebuah kebiasaan yang hampir tidak pernah ada pada masa Jahiliyyah. Rasulullah yang memiliki ketinggian akhlak dan dijamin surga oleh Allah saangat menghormati dan menyayangi perempuan. Buku yang terbagi menjadi 15 bab ini sungguh menyajikan keindahan pola relasi Rasulullah dengan perempuan di sekitarnya, anak, cucu, istri, saudara bahkan dengan umatnya. Dalam buku ini ditulis satu matan hadits berdasarkan pengelompokan tema-tema relasi perempuan disertai sumber hadis dari beberapa kitab utama dan dilengkapi penjelasan isi hadit dalam perspektif mubadalah.

Pada bagian pertama buku ini disajikan prinsip relasi antarmanusia yang diajarkan oleh Rasulullah. Prinsip-prinsip keutamaan akhlak yang diambil dari 6 hadits mengajarkan bahwa pola relasi antar manusia baik laki-laki maupun perempuan harus mengedepankan kemulyaan akhlak, saling menghargai, saling menyayangi. Bukan saling merendahkan, menyakiti, atau meminggirkan. Islam datang membawa  kemaslahatan bagi semuanya, tidak hanya laki-laki namun juga perempuan.

Pada bagian kedua membahas hadits-hadist tentang pengakuan hak-hak perempuan yang sebelum Islam datang tidak pernah didapatkan perempuan. Hak-hak perempuan apa sajakah yang disampaikan oleh Rasulullah? Salah satunya adalah hak diperlakukan tidak diskriminatif dalam hadis riwayat Bukhari, hak memperoleh posisi yang sederajat dengan laki-laki, hak mendapatkan pahala saat mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Kedudukan yang sederajat ini membawa konsekuensi pada pola relasi antara perempuan dan laki-laki yang dituangkan di bab ketiga. Hadist-hadits tentang bagaimana Rasulullah menghormati dan menyayangi perempuan selama ini hampir tidak kita kenal dan jarang disampaikan di masyarakat.

Suara-suara perempuan yag menuntut hak-haknya sampai saat ini terkadang masih kurang dianggap. Sementara Rasulullah telah memberikan contoh dalam haditsnya bagaimana beliau memberikan ruang yang sangat lebar bagi perempuan untuk menyampaikan pendapatnya, menuntut haknya atau mempertanyakan hal-hal kritis soal ibadah. Dalam hadist-haditsnya Rasulullah memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya sebagaimana sahabat laki-laki. Tentu ini sebuah kebiasaan yang tak pernah terjadi sebelum Isam datang. Sementara hadist yang beredar di masayarakat kita adalah “suara perempuan itu aurat, lebih baik diam”

Tentang kekerasan, Rasulullah dengan tegas melarang seperti dalam salah satu hadis yang tertulis di halaman 122 dalam buku ini, yang terjemahannya sebagai berikut:

“Dari Abdullah bin Zam’ah Ra., dari Nabi Muhammad Saw yang bersabda, “Janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya layaknya memukul hamba sahaya, (padahal) ia menggaulinya di ujung hari” (Shahih Bukhari)

Sangat jelas konteks hadits ini melarang kekerasan dalam rumah tangga. Istri seharusnya dihormati dan disayangi, bukan sebaliknya dipukul seperti budak. Hadist ini juga tidak popular. Hadist yang banyak dipakai adalah hadist yang menundukkan perempuan “Istri yang menolak ajakan suami akan dilaknat malaikat hingga subuh”. Hadits riwayat Muslim ini menjadi senjata bagi para suami untuk melegitimasi kekerasan dalam hubungan seksual dengan istri. Bahkan kepuasan seksual dalam rumah tangga dalam salah satu hadits Nabi bukan hanya hak suami, istri juga memiliki hak yang sama.

Hadits-hadits tentang relasi suami istri yang berlandaskan prinsip kasih sayang dan kesalingan dibahas dalam beberapa bab dalam buku ini. Dalam penjelasan salah satu hadits, kyai Faqihuddin memberikan kalimat kunci

“Nabi Muhammad Saw sebagai suami teladan, pendidik panutan, dan guru terbaik memilih tidak mengikuti kebiasaan laki-laki saat itu. Beliau memilih menjadi yang terbaik, menjadi pengasih dan penyayang. Dengan sengaja beliau memilih untuk tidak pernah memukul istri sama sekali dalam keadaan apapun. Ini adalah pilihan yang seharusnya menjadi panutan semua umat Islam yang menjadi pengikut beliau. Yaitu meninggalkan segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Oleh siapapun kepada siapapun”

Dalam relasi dengan Tuhan, perempuan memiliki hak dan kewajiban yang setara dengan laiki-laki. Penghambaan dalam mendekatkan diri kepada Allah bukan dilihat dari jenis kelamin maupun kedudukannya. Peran perempuan dalam berbagai hal seperti peran sosial yang bekerja di luar rumah maupun bela Negara, disampaikan oleh Nabi dalam upaya penghormatan perempuan sebagai manusia yang dipinggirkan selama berabad-abad.

Petikan hikmah dari buku ini adalah, sebagai sumber tauladan bagi umat Islam, Rasulullah memberikan landasan yang jelas pada kedudukan, peran dan relasi perempuan. Semua dilandaskan pada kesalingan, kasih sayang, saling menghormati. Rasulullah sebagai representasi Islam menolak dan menghindari semua bentuk kekerasan pada perempuan. Selayaknya hadits-hadits yang berpihak pada perempuan ini menjadi pijakan dalam kehidupan keseharian dan menjadi referensi utama dalam berdakwah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: