Demi Status Viral

Kamis lalu, 7 Januari 2021, media massa di Gresik diramaikan oleh berita perundungan yang dilakukan oleh tujuh anak perempuan terhadap seorang perempuan sebaya. Kekerasan ini dilakukan di alun-alun kota Gresik, sengaja direkam dan diunggah di media sosial oleh pelakunya. Berdasarkan keterangan Pihak kepolisian perundungan ini sebelumnya telah direncanakan. Tiga minggu lalu media sosial juga diramaikan oleh lima orang siswi kelas tujuh SMPN 1 Suela Lombok Timur yang menginjak-injak rapor mereka dan mengunggahnya ke Tik Tok. Kasus pertama berujung di Polres dan kasus kedua mereka hampir terancam dikeluarkan dari sekolah.

Semakin hari kita semakin resah dengan banyaknya kasus di media sosial yang mengarah pada kekerasan juga kekonyolan dari netizen yang semuanya mengarah pada keinginan untuk menjadi terkenal. Perundungan pada kasus pertama berawal dari persoalan sepele alasan perebutan pacar dari salah seorang pelaku  lalu mengajak teman-temannya meluruk dan mengeroyok korban dan sengaja merekam aksi mereka lalu mengunggahnya di media sosial. Pada kaasus kedua tanpa alasan yang jelas hanya ingin membuat video unik dan beda mereka menginjak rapor yang baru diterima dengan sengaja. Hanya iseng, namun perbuatan mereka sama dengan menginjak lembaga pendidikan mereka. tentu pihak sekolah menjadi marah dan mengambil tindakan tegas memanggil orang tua dan hendak mengeluarkan mereka dari sekolah. Kedua kasus tersebut dilakukan tanpa memikirkan akibat yang akan mereka terima, hanya karena pengen terkenal dan viral di media sosial.

Entah apa yang terjadi pada generasi kita saat ini. Demi ingin terkenal, banyak orang melakukan hal-hal di luar nalar. Mereka berusaha mencari sensasi demi mencari banyak klik dan menajdi viral. Tidak perduli apa yang mereka lakukan menyakiti orang lain, menyinggung perasaan orang lain, merendahkan martabat orang lain dan diri sendiri. Demi mencapai status viral hal-hal di luar batas nilai sosial, nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai pendidikan. Hal itu sengaja dilakukan dan diunggah ke media sosial agar banyak orang yang melihat, memberikan komentar, menyematkan “like”, meneruskan gambar maupun videonya. Mereka lupa bahwa apa yang telah ditorehkan dalam media sosial akan terus berjejak sampai kapanpun, tanpa bisa dihapus. Akibatnya tentu fatal bisa berujung hukum atau berakhir stigma sosial.

Dunia maya dalam gadged telah memberikan janji manis bagi siapa saja yang pengen eksis, diakui, diterima tanpa harus mempresentasikan diri secara utuh. Eksisitensi tidak lagi diukur oleh bagaimana kita bisa berbuat banyak dalam dunia nyata. Kecantikan tidak lagi terstandar postur. Kecerdasan tidak lagi dinilai dari tingginya nilai akademis. Eksis dan Terkenal adalah soal narsis di media sosial, soal viral.

Teknologi di satu sisi menghadirkan kemanfaatan dalam kedupan manusia, namun di sisi lain tanpa disadari dapat menumbuhkan gangguan psikologis pada manusia. Terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial dapat mengakibatkan mental Narsistik dan sikap anti sosial. Narsistik  lebih mencintai diri sendiri, mengganggap diri sendiri lebih penting dari orang lain dan cenderung tidak peduli dengan apa yang dialami orang lain. Selanjutnya sikap anti sosial akan terbentuk. Di mana sesorang tercerabut dari kehidupan sosialnya. Melakukan sesuatu berdasar pandangan pribadi tanpa mempertimbangkan akibat yang ditimbulkan pada orang lain.

Gresik, 11 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: