Kebahagiaan Sejati

Perjalanan wisata religi terkadang menjadi satu ritual yang kurang meninggalkan kesan selain pengalaman ritual bertawassul kepada Auliya yang disemayamkan di sana. Sampai suatu hari kami ke makam sunan Giri Gresik yang tidak seberapa jauh dari rumah. Tak ada yang istimewa selain hari itu Kami tidak diperbolehkan memasuki cungkup makam Sunan Giri karena Pandemi.  Duduk bersimpuh di pelataran sekitar makam yang semakin sejuk karena seluruh area telah dinaungi atap yang baru dipasang.

Foto koleksi ida R

Hingga mataku tertegun pada satu papan keterangan yang selama ini luput dari penglihatanku saat ke sana. Informasi yang baru saya ketahui adalah bahwa Sunan Girilah ternyata yang menciptakan tembang tradisional “Cublek-cublek Suweng”, sebuah tembang yang mengiringi dolanan di masa kecil dulu. Tembang yang saya anggap tembang biasa dan mainan masa kecil yang menyenangkan. Sepanjang perjalanan saya terus berpikir, jika tembang ini diciptakan oleh Sang Sunan tentu dia memiliki makna filosofis yang tinggi, memiliki pesan tersembunyi bagi masyarakat awam dan menjadi sarana dakwah yang ampuh di masanya.

Lirik tembang cublek suweng sangat sederhana

cublak-cublak suweng
suwengé ting gelèntèr
mambu ketundung gudhèl
pak empo lirak-lirik
sapa ngguyu ndelikaké
sir, sir pong delé kopong
sir, sir pong delé kopong

Lagu ini dinyanyikan bersamaan dengan permainan (dolanan) anak-anak secara bersama. Permainan ini diawali dengan hompimpa atau gambreng untuk menentukan siapa yang kalah pertama kali. Anak yang kalah akan berperan sebagai Pak Empo yang harus berbaring telungkup di tengah dan anak-anak lainnya duduk mengelilinginya.   Mereka duduk melingkar dan meletakkan telapak tangan menghadap ke atas di atas punggung Pak Empo. Lalu ada salah satu anak memegang biji/kerikil dan dipindah dari telapak tangan satu ke laiannya diiringi lagu cublek suweng.

Lagu cublek suweng ini menjadi sarana dakwah dan penanman nilai budi pekerti luhur pada anak-anak kala itu. Tidak ada kesan menggurui dalam lagu ini. Tidak ada pesan memaksa untuk berbuat baik pada anak-anak. Nilai etika dan falsasah hidup yang dalam disertakan dalam lagu yang dimainkan oleh anak-anak sebagai dolanan sehari-hari menunjukkan betapa dakwah Sunan Giri saat itu begitu menyentuh  kehidupan masyarakat awam termasuk anak-anak.

“Cublek Suweng” bermakna tempat suweng. Suweng adalah bahasa jawa yang menunjukkan makna “anting” atau perhiasan perempuan. Cublek suweng memiliki arti tempat harta berharga, suweng juga berarti suwung, sepi, sejati bermakna “harta sejati”.

Suwenge teng gelenter, harta yang berserakan. Sejatinya harta sejati berupa kebahagiaan itu berserakan di sekitar manusia. Mambu ketundung gudel, banyak orang termasuk orang bodoh (gudel-anak kerbau) yang berusaha mencari harta sejati itu dengan keserakahan dan ego untuk menemukan kebahagiaan sejati.

Pak Empo lirak lirik, Bapak ompong menengok kanan –kiri,  orang bodoh ibarat orang tua ompong yang kebingungan mencari kebahagiaan. Harta melimpah ternyata bukanlah harta sejati, kebahagiaan sejati. Sopo ngguyu ndeliake, siapa yang tertawa dia yang menyembunyikan. Siapa yang memiliki keluasan hati, orang yang bijaksana akan menemukan harta sejati atau kebahagiaan sejati. Dialah orang yang selalu tersenyum, semeleh, tanpa beban dan menyerahkan semua urusan pada Allah dalam menjalani kehidupan.

Sir-sir pong dele kopong, sir adalah nurani, dele kopong adalah kosong tanpa isi. Untuk dapat mencapai harta sejati (cublek suweng) atau kebahagiaan sejati, manusia harus melepaskan diri dari keterikatan dan kecintaan terhadap harta benda duniawi, senantiasa mengosongkan diri, rendah hati dan selalu mengasah sir atau nuraninya.

Cublek suweng ini mungkin hanya tinggal permainan yang jarang dimainkan oleh anak-anak sekarang. Namun nilai ajarannya masih sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini yang sangat materialistic, dikelilingi oleh suweng, materi berlimpah dan sir, nurani kita  yang juga terisi suweng. Hati kita sangat terikat dengan suweng, harta, sampai kita rela melakukan banyak cara untuk memperoleh harta dengan meninggalkan sir atau nurani kita.

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: