Tingkeban Untuk Keselamatan Ibu Dan Bayi

Tanggal 21 Desember 2020 lalu PW Fatayat NU Jawa Timur menyelenggarakan Tingkeban Massal. Bersama 25 pasangan ibu hamil 6 bulan ke atas, upacara ini dilaksanakan berbeda dari tradisi asli tingkeban yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa. Tingkeban massal ini didahului dengan mengaji Al-Qur’an surat Yusuf dan Surat Maryam, membaca doa keselamatan selama mengandung dan menghadapi kelahiran bayi. Setelahnya mereka dikirab, ditabur dan dikalungi bunga. Upara tingkeban ini sebagai upaya bermunajat meminta keselamatan ibu dan bayi yang akan dilahirkan kepad Allah dan melanggengkan tradisi Jawa.

Tingkeban  berasal dari tradisi jawa pada  masa Raja Jayabaya Kediri, saat sepasang suami istri bernama Sediya dan Niken Satingkep yang mengadukan nasib malang mereka kehilangan buah hati beberapa kali pada Raja Jayabaya. Raja Raja Jaya Baya  memberikan petunjuk pada Nyai Satingkep pada hari Tumbak (Rabu) dan budha (sabtu) harus mandi air suci dengan gayung tempurung kepala bathok dan membaca doa selama mandi.

Selepas mandi niken satingkeb diharuskan memakai pakaian bersih. Dilanjutkan dengan menjatuhkan buah kelapa gading antara perut dan baju yang dipakai bertujuan agar anaknya lahir dengan lancar. Sang ibu kemudian membelitkan daun tebu wulung pada perutnya yang nantinya akan dipotong dengan sebilah keris. Petuah Raja jayabaya itu dituruti dan permintaan mereka dikabulkan. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.

Tujuan utama tradisi ini adalah meminta keselamatan ibu saat mengandung hingga melahirkan dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat. Dalam masyarakat jawa, Tradisi Tingkeban ini disebut dengan beragam nama seperti mitoni, neloni jika usia kehamilan masih tiga bulan.

Ada beragam perangkat dan tahapan  yang harus disiapkan dalam tradisi ini meski tidak semua masyarakat Jawa melakukan upacara ini dengan lengkap. Tahapan dalam upacara tingkeban ini dimulai dengan siraman yang dilakukan oleh para sesepuh, ibu, bapak, kakek atau nenek dari kedua belah pihak istri dan suami.  Dilanjutkan dengan memasukkan telur oleh suami ke dalam baju istri dan memecahkannya dengan tujuan agar anak bisa lahir dengan mudah dan selamat. Setelah itu Sang ibu harus mengganti baju sebanyak tujuh kali, melilitkan selendang di perut yang akan dipotong oleh suami sebagai lambang kelancaran proses melahirkan. Acara dilanjut dengan ibu perempuan hamil dan ibu mertua membawa kelapa gading untuk diberikan pada calon ibu. Kelapa gading kemudian dimasukkan ke kain ibu hamil dari perut dan diturunkan ke bawah. Lalu Kelapa diambil oleh suami untuk dipecahkan.

Setelah acara siraman selesa dilanjutkan dengan acara jual dawet (cendol) dan rujak. Pembelian dawet dan rujak memakai kereweng (potongan genteng dari tanah liat). Hasil penjualan dikumpulkan dalam kuali terbuat dari lempung. Kuali dan kumpulan kereweng kemudian dikepruk (dipukul hancur) menyimbolkan doa supaya bayi yang akan lahir dikaruniai banyak rezeki. Selain dawet dan rujak, makanan khas yanag harus ada di tingkeban ini adalah jajan pasar, polo pendem (ubi, ketela, kentang, kacang tanah dll), dan bubur procot.

Tradisi Tingkeban yang dilakukan oleh masyarakat jawa pada umumnya saat ini takselengkap tradisi  awalnya. Nilai tradisi yang dihidupkan adalah meminta doa keselamatan ibu hamil dan bayi yang akan dilahirkan dengan memanjatkan puji doa pada sang Pemberi Hidup. Adapun berbagai perangkat dan sajian adalah sarana berbagi dengan lingkungan sosial. Islam datang tidak semata memberangus tradisi Tingkeban yang telah lama dilakukan secara turun temurun ini. Islam memberikan warna dan tuntutan ajaran yang diajarkan Nabi saat perempuan hamil dengan membaca Al-Qur’an surat Yusuf aga jika Bayi lahir berjenis kelamin laki-laki setampan nabi Yusuf yang teguh menjaga martabat diri dan mmeiliki kemulyaan nasib. Surat Maryam dibaca untuk mendoakan bayi jika lahir perempuan agar menjadi perempuan berakhlak suci, berparas rupawan seperti Maryam yang mampu menjaga kesuciannya.  

Gresik, 8 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: