Membaca versus Gadget

Kedua anakku lahir sebagai generasi Alpha. Generasi yang jauh dari hiruk pikuk perjuangan kehidupan. Generasi Alpha dianggap paling sejahtera dibanding generasi sebelumnya. Mereka lahir dalam revolusi teknologi yang memungkinkan mereka menjadi generasi paling transformatif dengan gadged di tangan sejak lahir.

Sebagai orang tua kami menyadari sepenuhnya bahwa teknologi sangat mempengaruhi kehidupan mereka.  Dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali teknologi selalu menemani mereka. Gaya belajar, hal-hal yang mereka pelajari maupun cara bergaul dengan sesama teman memiliki kekhasan tersendiri. Gadged menjadi benda penting yang sangat mempengaruhi hidup mereka.  Sekuat apapun kita ingin memisahkan gadged dari kehidupan mereka sekuat itu pula gadged menarik mereka ke dalamnya.

Sejak awal, aku dan suami telah membuat kesepakatan tentang beberapa hal soal pola asuh anak-anak. Bagaimana menerapkan pembiasaan agama, pola makan, penanaman karakter, pemilihan sekolah, pembiasaan membaca hingga pemakaian gadged. Kesepakatan ini sangat penting untuk memberikan pola pendidikan yang sama. Ada dua hal yang ingin saya share di sini, tentang pemakaian gadged dan pembiasaan membaca yang kami tanamkan pada anak-anak.

Mengatur gadged agar tak diatur gadged

Kadang kita tidak habis pikir mengapa anak-anak sangat tergantung pada benda kecil bernama gadged ini? Jika ingat siapa mereka dan hidup di zaman apa, maka segera kita tersadar bahwa memalingkan generasi alpha dari gadged ini tidaklah mungkin dan mustahil. Gadged adalah bagian hidup mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membantu mereka mengatur waktu  pemakaian dan mendampingi mereka memilih konten yang mereka lihat dan mainkan agar gadged tidak menjadi pembentuk karakter terbesar bagi anak-anak.

Untuk pemakaian gadget ini, kami hanya mengizinkan anak-anak memegang gadget di hari minggu. Ini membuat hari minggu seperti hari kebebasan dan kebahagiaan bagi mereka. Game yang didownload selalu kami awasi. Youtube yang mereka lihat selalu kami pantau sebisa mungkin.  

Namun saat pandemic semua buyar. Belajar dari rumah dengan menggunakan gadged sebagai medianya di satu sisi menyisakan keresahan. Saat belajar daring selesai, bonus gamepun diminta. Sepanjang hari di rumah membuat mereka bosan dan gadged menjadi pelampiasan. Buyar sudah kesepakan yang telah dibangun bersama. Mereka mulai memainkan game lebih banyak,   mengenal youtuber-youtuber yang sedang digandrungi. Dari youtuber inilah mereka belajar kosakata yang sebelumnya tidak mereka kenal dan membuat telinga risih.

Kami memutar otak agar kebiasaan bermain gadged yang semakin bertambah porsinya tidak membuat anak-anak kecanduan. Kami mulai mengatur waktu bermain gadged kembali meski tiap hari. Kami mulai menggali apa isi game yang mereka mainkan agar dapat dicari sisi positif untuk bahan belajar. Kami meminta anak-anak menggambar Karakter-karakter dalam game atau menuliskannya dalam cerita pendek. Si kecil mulai membuat wayang karakater Among us dari kertas lipat warna-warni dan ditempel di stik es krim. Saat teman-teman datang ke rumah wayang itu mereka mainkan bersama. Si kecil juga mulai menggambar semua karakter game yang dilihat dalam buku gambar, mulai spongebob hingga Among us. Si kakak mulai bercita-cita menjadi seorang youtuber. Dia membuat video beberapa aktivitasnya.  

Foto koleksi proibadi

Membaca buku sebagai penyeimbang

Untuk mengimbangi pengaruh gadged ini, kami membangun kebiasaan membaca sebelum tidur. Kebiasaan ini sebenarnya sudah saya lakukan saat anak-anak masih bayi. Sejak anak-anak lahir, kami sepakat untuk membacakan buku secara bergantian setiap anak-anak  mau tidur. Meski mereka belum bisa memahami, kami yakin stimulasi sejak dini dapat membantu anak-anak tumbuh dekat dengan buku.

Sebelum menikah saya sudah meminta suami berjanji. Dia boleh melarang apa yang aku kerjakan tapi jangan pernah melarang  membeli buku..he he. Meski buku yang kubeli itu entah kubaca ataukah tidak. tapi aku yakin suatu saat pasti aku akan memerlukan buku tersebut setidaknya anak-anak bisa membacanya kelak.  Demi buku untuk anak, harga ensiklopedi jutaan saya beli meski dengan kredit hihi…lunas beli lagi, lunas beli lagi.

Sebelum mereka bisa membaca, kami selalu membacakan buku tersebut secara bergantian Setiap hari. Tidak hanya membaca sebenarnya, kami juga seringkali mendongeng apa saja, mulai kisah nabi, dongeng rakyat, atau dongeng karangan kami sendiri saat kami ingin menanamkan satu nilai pada mereka. Biasanya jika kami kesulitan memberikan pemahaman tentang satu nilai yang harus kami tanamkan, memalui cerita karangan inilah kami memberikan pemahaman. Terkadang mereka protes, itu karangan papa atau Bunda he he..

Setelah mereka bisa membaca, kegiatan membaca kami lakukan bergantian, kadang adik atau kakak yang membaca buku. Terkadang kamia meminta mereka menceritakan kembali. Di pagi hari terkadang kami juga membincang apa yang kami baca semalam. Ini semata untuk mengikat pengetahuan yang telah mereka dapat dari buku. Saat ini kebiasaaan ini menjdi satu hal yang tidak bisa kami tinggalkan. Mereka tidak akan bisa tidur jika belum membaca atau mendengar cerita. Biaasanya anak-anak memilih buku sendiri yang akan dibaca.   Membiasakan membaca di luar kebiasaan ini masih sulit. Sehingga kami menempuh banyak cara agar kebaiasaan ini terus berlangsung.

Rumah kami biasa menjadi basecamp bagi teman-teman Fawwaz dan Arsyad. Sejak pintu rumah kami buka jam 06.30 sepagi itulah anak-anak main ke rumah. Nah untuk menarik anak-anak kami sendiri juga teman-temannya, kami menyediakan rak buku yang menarik dan mudah mereka jangkau. Meski awalnya Cuma membuka-buka buku di rak, melihat gambar-gambarnya, lama kelamaan mereka turut membaca. Kami seringkali memberikan mereka kuis atau tantangan yang dapat menarik anak-anak ini untuk membaca.

Membaca memang sangat tidak menarik bagi generasi alpha ini dibanding gadged, namun membaca dapat menjadi peyeimbang   aktivitas otak mereka. Gadget dapat menekan kreativitas dan merangsang sikap agresif anak-anak, dengan membaca sikap kritis dan analitis anak-anak dapat dibangun sejak dini.

Gresik, 5 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: