Siti Fatimah Binti Maimum ; Daiyah Belia Peletak Sejarah Islam Nusantara

Nama Siti Fatimah Binti Miamun ini tentu tak asing di telinga umat Islam Nusantara. Dalam sejarah perkembangan Islam Nusantara,  nama Siti Fatimah adalah bukti sejarah paling awal ditemukannya jejak Islam di bumi Nusantara.

Sore itu perjalanan kami sekeluarga menuju Desa Leran Kecamatan Manyar, Gresik terasa istimewa. Berbeda dengan makam para auliya yang tersebar di Gresik yang biasa dijadikan tujuan wisata religi, makam Siti Fatimah Binti Maimun tergolong sepi, asri dan terasa magis. Area pemakaman yang luas dengan cungkup tinggi berukuran 4 x 6 meter disusun dari batu putih khas bangunan di daerah Gresik. Bangunan ini memberi kesan mewah di tengah pekarangan dikelilingi pohon bambu. Di dalam cungkup tersebut ada lima makam bertuliskan putri  Seruni, Putri Keling, Putri Kucing dan Putri Kamboja yang dianggap sebagai pendamping Siti Fatimah. Di luar cungkup terdapat beberapa   makam berukuran panjang. Di batu nisan makam panjang ini bertuliskan  Sayyid Djamaludin, Sayid Dja’far, Sayid Syarif. Tidak ada keterangan jelas apa hubungan makam panjang ini dengan Fatimah Binti Maimun beserta pengikutnya. Namun Penduduk Leran menyebut area pemakaman ini sebagai “makam panjang”.

Sosok Siti Fatimah Binti Maimun  masih misteri dan hanya bisa ditelusuri dari batu nisan yang dulu  tergeletak bersandar di dinding makam yang saat ini disimpan di  Museum Majapahit Mojokerto. Dalam nisan tersebut tertera angka tahun yang sudah sulit terbaca. Moquette berkesimpulan tahun 495 H atau 1102 H. Paul Ravaisse  berkesimpulan Tahun 475 H atau 1082 M. Kesimpulan Ravaisse inilah yanag banyak diikuti oleh para Sejarawan Indonesia karena menunjukkan waktu yang lebih tua.

Tulisan angka tahun pada batu Nisan ini mematahkan berbagai mitos yang berkembang di kalangan masyarakat bahwa Fatimah Binti Maimun ada hubungan dengan Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Sultan Mahmud Syah raja Malaka.   Maulana Malik Ibrahim di batu nisannya tertulis tahun 822 H atau 1419 M, selisih 337 tahun dengan masa hidup Fatimah. Sementara Sultan Mahmud Syah hidup tahun 1511 M, tentu rentangnya selisih 400-an tahun.

Terlepas dari mitos dan cerita yang berkembang di masyarakat, Makam Siti Fatimah Binti Maimun ini menunjukkan bahwa dia adalah perempuan yang memiliki keberanian berdakwah di tengah masayarakat Jawa yang masih banyak memeluk agama Hindu Budha. Pada kaligrafi batu nisan yang dibaca oleh JP Moquette berbunyi

 “ Bismillahirrahmanirrahim, kullu man alaiha fanin wa yabqa wajhu rabbika dzul jalali wal ikram. Hadza qabru syahidah Fatimah binti Maimun bin Hibatallah tuwuffiyat fi yaumi al-Jumah… min Rajab wa fi sanati khamsatin wa tis’ina wa arba’ati min ‘atin ila rahmatallah… shadaqallah al-azhim wa rasulihi al-karim.

Artinya :

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tiap makhluk di bumi itu fana yang kekal hanya wajah Tuhanmu yang perkasa dan mulia (Surat ar Rahman: 26-27) Inilah kubur syahidah Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat di hari Jumat … dari bulan Rajab di tahun 495 H menuju rahmat Allah… Maha Benar Allah Yang Agung dan rasulnya yang mulia..

                Di usia yang belia dia sudah menempuh perjalanan untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Cerita tentang ia akan menikah dengan raja terakhir majapahit sebagai upaya dakwahnya mengislamkan penduduk Jawa ditulis dalam Sejarah Banten  tahun 1662, disebutkan bahwa pada masa Islamisasi jawa seorang Putri bernama Suwari dari Leran ditunangkan dengan Raja terakhir Majapahit (Djayadiningrat, 1983) adalah sebagai upaya untuk menyebarkan pengaruh Islam melalui perkawinan dengan penguasa. Islamisasi melalui jalan pernikahan ini banyak terjadi di masa awal Islam. Biasanya ini ditempuh oleh para pedagang sekaligus Dai  menikah dengan putri penguasa.

Siti Fatimah memang tidak sempat menikah dengan Raja Majapahit karena wabah kusta merenggut nyawanya beserta para pendampingnya. Kata syahidah yang tertera dalam batu nisan itu telah menunjukkan peran Siti Fatimah sebagai seorang pejuang perempuan yang menyebarkan agama Islam jauh sebelum walisongo. Pada usia muda dia telah disebut sebagai seorang  syahidah yang menunjukkan derajatnya sebagai perempuan pejuang yang disegani pada masanya. Penemuan batu Nisan Siti Fatimah Binti Maimun ini dianggap sebagai penemuan komunitas muslim pertama di Nusantara dan menjadi peletak dasar sejarah Islamisasi di Nusantara.

Ini menunujukkan bahwa perempuan pada masa awal penyebaran Islam di jawa memiliki andil yang cukup penting. Meski catatan sejarah perjalanan dan perjuangan Siti Fatimah tidak ada yang mengungkap dengan detail. Namun jejak Fatimah telah menjadi titik awal bagi sejarawan membaca Islamisasi di Nusantara.

Gresik, 3 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: