Uang Bukan Segalanya

Hidup di era konsumerisme seperti ini tidak punya uang  rasanya langit seperti mau runtuh. Bagaimana tidak.  Setiap hari kita susuguhi iklan fashion, promo makanan, diskon traveling  yang menggiurkan. Uang seperti menjadi segalanya. Siklus hidup kita seakan tak pernah lepas dari uang. Sampai ada  pepatah yang menurutku  menyesatkan “Ada Uang Abang sayang, tak ada uang abang melayang. He he…menyesatkan karena pepatah ini sangat mendeskriditkan perempuan seakan menjadi satu-satunya mahluk yang materialistis…

Di awal pernikahan, sangat kusyukuri dengan keberlimpahan rezeki kami berdua. Keuangan kami bisa dibilang sangat cukup. Sebagai PNS gaji bulananku dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara gaji suami sebagai peneliti lepas jauh melampaui PNS. Dalam sekali penelitian selama minimal dua minggu bisa memperoleh gaji sebesar gajiku sebulan. Dalam sebulan atau sepanjang dua bulan penelitian gajinya berlipat dari gajiku tergantung pada instansi yang memberikan dia kontrak. Selama paling sedikit dua minggu dia pergi ke luar kota untuk pekerjaan ini. Jika kontrak penelitian tersebut sampai dua bulan ya dua bulan penuh dia tidak pulang. Hemm..gaji sebesar itu sudah bisa kami tabung untuk membeli perabot rumah dan mempersiapkan persalinan.

Hidup di rantau tanpa keluarga dan seringkali ditinggal suami ke luar kota selama berminggu-minggu menjadi hal biasa bagiku. Saat hamil anak pertama semua kulakukan sendiri, karena suami pulang paling lama satu bulan, lalu ke luar kota lagi. Sampai anak pertama lahir. Saat suami ke luar kota si sulung kutitipkan ke orang tuaku di luar kota karena aku harus bekerja dan akan kujemput saat suami pulang. Saat anak hamil kedua, hal ini terus kulakukan sehingga hampir seminggu sekali aku ke luar kota menjenguk anak sulungku. Terkadang aku mengajak saudara atau orang yang mau menemaniku mengasuh anak-anak . Hingga saat anak kedua berumur 2 tahun aku mulai berpikir. Kami berlimpah uang tapi keluarga tercerai berai. Anak-anak semakin tumbuh dan jauh dari pengawasan dan pendampingan kami sebagai orang tua.

Ini membuatku sangat gelisah, lelah dan tidak fokus bekerja. Kami bisa mencari uang sebanyak mungkin tapi kami tidak bisa membeli masa pertumbuhan anak-anak. Diskusi panjang mulai kulakukan bersama suami. Sebagai PNS aku tidak bisa begitu saja melepas pekerjaan karena terikat sumpah jabatan, sementara suami lebih fleksibel karena tidak terikat. Semua konsekuensi keuangan kami pikirkan baik-baik. Kami harus memilih pendidikan anak dan pemasukan keuangan. Salah satu dari kami harus memilih. Dengan berbagai  pertimbangan akhirnya kami putuskan bahwa suamilah yang harus resign, mengingat kontinuitas pekerjaannya yang berdasar proyek sementara aku sudah ada jaminan kontinuitas gaji.

Pilihan ini sangat tidak mudah. Kami menyadari betul konsekuensinya. Tidak hanya persoalan keuangan yang sangat jauh berkurang, namun juga soal stigma dan pandangan keluarga, teman atau tetangga. Suami di rumah sepenuhnya, mengasuh anak-anak dan urusan rumah tangga, sementara aku yang harus keluar rumah bekerja. Kami sadar-sesadarnya bahwa pilihan ini tidak mudah dan membuat kami harus beradapatasi dengan banyak hal, terutama soal keuangan. Meski kami memutuskan untuk membuka usaha sampingan dengan modal dari tabungan, tentu hasilnya tidak sebesar saat suami bekerja.

Pengeluaran tidak lagi sebebas dulu, sementara kebutuhan anak-anak semakin meningkat. Kami belajar berhemat. Memulai usaha barupun tidak semudah bayangan dan perencanaan.  Pemasukan sepenuhnya dari gajiku, usaha di awal-awal tahun belum memberikan hasil maksimal. Konflik-konflik kecil sering terjadi. Namun kami terus belajar untuk bisa melewati semuaya dengan baik. Pendampingan masa tumbuh anak-anak adalah prioritas. Uang bisa dicari, namun masa anak-anak tak akan pernah kembali. Itulah yang selalu menjadi semangat kami untuk tidak fokus pada berlimpahnya harta. Anak-anak adalah harta kami yang takternilai. Pemenuhan kasih sayang oleh kedua orang tua tak akan bisa digantikan oleh uang sebesar apapun.  Yang terpenting kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak sudah bisa kami penuhi itu sudah jauh lebih dari cukup. Iklan fashion, promo makanan dan diskon traveling masih bisa kami nikmati. Tak ada uangpun abang tetap disayang.

Gresik, 02 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: